Kamis, 18 Februari 2010

Taman Nasional Pertama di Republik Indonesia (PANDEGLANG, BANTEN)




Alhamdulillah saya punya kesempatan untuk melakukan kerja praktik di PT. Asahimas Chemical Anyer, Banten, selama satu bulan di Bulan Agustus 2009. Saya memang punya alasan-alasan untuk memilih sebuah tempat kerja praktik, diantaranya yang dekat pantai. Maklum saja, Kota Bandung tempat saya tinggal hingga saat ini, jauh sekali dari kehidupan pantai, hal ini kadang kala membuat saya sangat rindu dengan deburan ombak dan angin pantai. Kawasan industri Anyer cukup mengubur rindu saya akan pantai. Saya mengambil lokasi Pegadungan Anyer untuk tinggal selama sebulan, Lokasi yang cukup strategis ini menyuguhkan pantai berkarang dengan pemandangan Pulau Sanghiang dan Pulau Krakatau di kejauhan mata. Pantai tersebut hanya beberapa langkah saja dari tempat kami tinggal. Kawasan pegadungan memang masih berdenyut walau tengah malam sekalipun. Keramaian lokasi ini masih terasa karena dekat dengan pusat perdagangan dan pemerintahan Kecamatan Anyar, serta menjadi lintasan utama bagi mereka yang hendak menuju Pantai Anyer.

Ditengah Bulan Agustus, saya dan partner kerja saya memutuskan untuk melakukan petualangan menuju ujung Pulau Jawa, Ujung Kulon. Apalagi yang kami cari kalau bukan sebuah Taman Nasional dengan luas 1,206 km² yang menjadi “Taman Nasional Pertama di Republik Indonesia”. Yang ada di dalam benak saya saat mendengar ujung kulon ialah “Badak Jawa” yang hanya tinggal beberapa ekor di pulau terpadat Indonesia ini. Memang miris saat membaca dari beberapa situs lingkungan hidup tentang keadaan mereka yang semakin terdesak oleh manusia manusia Indonesia. Yang pasti, kepunahan Harimau Jawa tidak boleh terulang kembali pada Badak Jawa, salah satunya dengan hadirnya Taman Nasional ini di tanah air sebagai benteng terakhir keberadaan mereka di muka bumi.

Beruntung kalender saat itu menjatuhkan tanggal 17 Agustus 2009 pada hari senin. Sehingga kami punya waktu selama tiga hari untuk berpetualang di hari sabtu, minggu dan senin. Waktu yang cukup untuk mengitari Taman Nasional seluas Ujung Kulon. Untuk meringankan biaya perjalanan, saya dan partner kerja saya mengundang teman-teman kuliah yang sedang kerja praktik di kota-kota lain untuk bergabung bersama kami. Alhasil saya mendapatkan tambahan tiga orang untuk perjalanan ini. Sebenarnya kami sama-sama modal nekat, namun motivasi yang kuat itu lahir dari cerita-cerita menarik soal keindahan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) dari cerita masyarakat Anyer yang saya temui dan cerita di blog hingga situs yang pernah saya baca. Segera kami mengatur rencana via telepon dan sms mengenai waktu dan teknis keberangkatan.
Pada rencana awal, kami menjadwalkan keberangkatan dari anyer pada sabtu pagi hari, agar transportasi masih mudah djumpai dan dapat menikmati perjalanan. Namun karena beberapa hal, kedatangan ketiga rekan saya mengalami keterlambatan hingga menjelang sore hari. Namun hal ini tidak menyurutkan kami untuk tetap meneruskan perjalanan dari tempat tinggal saya di Anyer menuju Labuan. Kami berangkat pada pukul 14.30 WIB dengan angkot MTR arah Labuan. Hanya satu jam dan membayar Rp. 10.000 /orang kami telah tiba di Terminal Labuan, kami pikir di terminal ini ada kendaraan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Cibaliung, ternyata kendaraan yang dimaksud tidak sedang ngetem di terminal, karena hari sudah sore. Kami mendapat petunjuk dari warga sekitar jika kendaraan yang menuju Cibaliung pada sore hari ngetem di persimpangan jalan sebelum jalan arah Terminal Labuan. Kami segera menuju lokasi yang dimaksud, dan kami melihat bus kecil yang lebih mirip elf itu sedang menunggu penumpang, segera kami menurunkan ransel dan mengangkatnya ke atap mobil untuk diikat diatas, lalu kami mulai duduk manis di dalam mobil tersebut. Setelah menunggu lama, akhirnya sang supir puas dengan jumlah penumpang yang menurutnya sudah cukup sedangkan menurut kami ini sudah sangat banyak hingga penuh sesak dan panas. Namun inilah seninya “backpacker” kita dapat mempelajari kehidupan sosial yang realistis dan humanis yang terjadi di keseharian kota kecil ini. Dengan gaya berkendara yang menaikan dan menurunkan penumpang ala angkot, akhirnya kami tiba di Cibaliung pukul 17.30 WIB, setidaknya butuh waktu dua jam dari Labuan hingga tiba di Cibaliung, biayanya cukup Rp.15.000 /orang. Selanjutnya kami akan meneruskan perjalanan menuju Sumur. Kami diturunkan supir di jalan yang akan dilewati elf menuju Sumur dan kata si supir biaya menuju sumur hanya Rp. 10.000 /orang. Tidak lama menunggu, kami beruntung masih mendapatkan kendaraan terakhir yang menuju sumur saat itu, padahal hari sudah mulai gelap. Inilah resikonya jika kami melewati perjalanan malam, kami tidak dapat memanjakan mata dengan indahnya pedesaan di sepanjang jalan menuju Sumur. Tidak seperti suasana gelap diluar jendela, di dalam mobil masih ada lampu kuning remang-remang yang menemani kami berlima. Ditambah lagi suasana akrab saat kami ngobrol dengan warga yang ada di dalam elf mengenai situasi Sumur.

Sebenarnya Sumur memiliki pelabuhan kecil untuk menampung wisatawan yang akan menyebrang ke Pulau Peucang yang merupakan tujuan akhir kami. Namun jaraknya cukup jauh sehingga biaya yang dibutuhkan juga cukup banyak. Tapi bagi anda yang tidak berminat melanjutkan hingga Ujung Kulon karena keletihan atau alasan lainnya, di depan Desa Sumur ini ada Pulau Umang yang juga terkenal keindahannya. Akhirnya, kami tiba di Sumur pada pukul 19.30 WIB. Hari sudah begitu gelap, ditambah lagi saat itu sedang mati lampu sehingga desa ini semakin gelap gulita. Kami sempat kebingungan untuk melanjutkan perjalanan, karena kami masih punya tujuan terakhir yaitu Desa Tamanjaya yang merupakan desa terakhir yang ada di Taman Nasional Ujung Kulon. Sanking jauhnya Desa Tamanjaya, tidak ada lagi kendaraan yang menuju desa kecil itu. Satu-satunya transportasi yang mungkin menuju desa tersebut adalah ojek motor. Karena hari sudah malam, kami kesulitan mencari ojek motor yang mau mengantar kami menuju Desa Tamanjaya. Sambil menunggu ojek motor, kami beristirahat di sebuah warung di pertigaan jalan masuk menuju Desa Tamanjaya. Setelah tawar menawar harga yang pas di kantong kami, akhirnya kami bersedia membayar Rp 35.000 /orang. Akhirnya setelah menunggu satu jam kami melanjutkan perjalanan dengan lima motor menuju Desa Tamanjaya pada pukul 20.30 WIB. Rasanya bukan harga yang mahal untuk perjalanan darat terakhir ini, bagaimana tidak, sang supir ojek harus menyetir motor malam hari hanya dengan mengandalkan lampu motor dan diperburuk dengan kondisi jalan yang sangat amat rusak. Keadaan jalan yang sangat parah ini membuat salah satu ban motor pecah, sepertinya memang sudah sering ojek motor disini mengalami pecah ban, sehingga sampai ada tambal ban di beberapa titik selama perjalanan. Sambil menunggu ban motor tersebut ditambal, kami singgah di sebuah rumah warga untuk sekedar duduk-duduk dan ngobrol. Setelah ban selesai ditambal, kami melanjutkan setengah perjalanan lagi menuju Desa Tamanjaya. Sekitar satu jam lebih tiga puluh menit kami tiba di Desa Tamanjaya pada pukul 22.00 WIB.
Saya langsung mencari alamat Bapak Sentani, Bapak Sentani ini kenalan teman ayah saya. Beliau dulunya memang menyewakan perahu untuk wisatawan yang akan melanjutkan ke Pulau Peucang, namun sekarang perahu tersebut sudah dijual kepada anak buahnya. Kami berharap dengan bermodalkan kenalan teman ayah saya dapat meringankan biaya penyewaan perahu, namun ternyata tetap saja kami harus membayar Rp. 1.300.000 untuk rute Desa Tamanjaya – Pulau Peucang – Pulau Handeuleum – Desa Tamanjaya. Karena sudah kepalang tanggung, kami pun tidak ambil basa basi lagi dan langsung bersiap menuju Pulau Peucang malam itu juga. Kami beristirahat diteras rumah Bapak sentani sambil menunggu keberangkatan perahu menuju Pulau Peucang pada pukul 01.00 WIB hari minggu. Dengan ditemani cahaya bulan, kami berjalan kaki menuju dermaga kecil yang terbuat dari kombinasi beton dan kayu. Perlahan kami memasukkan ransel-ransel kami dan masing-masing mencari posisi untuk duduk di perahu. Lalu perahu mulai berangkat dan saya tertidur selama perjalanan tiga jam menuju Pulau Peucang. Pukul 04.00 WIB kami tiba di Pulau Peucang yang terkenal keindahannya ini. Namun kami tidak bias melihat keindahannya karena hari masih gelap, sambil menunggu matahari terbit kami mendirikan tenda untuk menyimpan barang-barang bawaan kami.

Matahari mulai muncul ditutupi awan mendung, memang minggu pagi itu kurang cerah. Namun cahaya matahari itu seolah-olah membuka misteri tentang keindahan Pantai Pulau Peucang. Satu per satu bagian pohon mulai terlihat jelas dan pantainya mulai menunjukkan keindahannya. Tak tahan kami segera bersiap beranang. Kami menemukan sebuah perahu kecil di Dermaga Pulau Peucang, tanpa mengetahui si pemilik perahu tersebut kami pun mengambilnya dan bermain hingga ketengah laut dengan mendayung sendiri perahunya. Tiada satu kata apapun yang dapat menjelaskan indahnya pantai di Pulau Peucang ini.




Selanjutnya kami menyiapkan makan pagi dengan roti dan ikan sarden kaleng. Entah ide darimana tiba-tiba saya ingin mengkomindasikan keduanya, dan rasanya tetap lezat. Nyummiee. Memang apapun yang dimakan di pantai pasti nikmat rasanya.

Pada pukul 11.00 WIB kami tracking di dalam Hutan Pulau Peucang selama dua jam. Di dalam sana kami menemukan satwa liar bebas berkeliaran di habitat aslinya, kami melihat monyet dan rusa sedang mencari makan disini. Hutan ini keadaannya masih cukup baik, bersih dan terawat tanpa gangguan tangan tangan jahil pengunjung yang merusak hutan. Track yang kami lalui tidak terlalu sulit karena memang tidak ada tanjakan dan jalurnya sangat mudah terlihat. Diujung perjalanan kami ada sebuah pantai berkarang yang bernama Karang Copong. Seharusnya kami dapat menikmati keindahan sunset dari sini, namun kami masih punya banyak tujuan lain, salah satunya Cidaon yang merupakan tempat banteng-banteng berkeliaran. Tidak lama menikmati Pantai Karang Copong, kami segera kembali ke Dermaga Pulau Peucang.

Dengan perahu kamu menuju Padang Penggembala Cidaon pada pukul 15.00 WIB. Di tempat ini kami dapat melihat Banteng Jawa, Merak dan burung-burung bebas mencari makan. Namun sayang, waktu kami kurang tepat karena jam makan banteng-banteng itu telah lewat, biasanya banteng-banteng tersebut makan di Padang Rumput ini pada pagi hari. Jadi kami mengahabiskan waktu selama dua jam disana untuk melihat Merak dan burung-burung dengan teropong yang kami bawa sendiri di atas menara pemantau yang telah disediakan di tempat ini.

Selanjutnya pada pukul 17.00 WIB kami bergegas ke Dermaga Cidaon untuk melanjutkan perjalanan menuju Pulau Handeuleum dengan perahu sewaan kami. Ditengah perjalanan, mesin perahu ini mengalami gangguan dan kami pun terkutang katung di tengah laut, sungguh pengalaman yang luar biasa dimana hari sudah gelap dan perahu kami mati ditengah jalan. Beruntung ada perahu lain yang melintas dan kami mendapatkan bantuan untuk memperbaiki mesin yang rusak. Setelah tiga lebih tiga puluh menit diatas laut, kami pun dapat mendarat dengan selamat di Pulau Handeuleum untuk bermalam pada pukul 20.30 WIB, kami pun segera mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam. Di Pulau Handeuleum ini kita juga dapat menjumpai rusa-rusa yang masuk ke lokasi camp wisatawan, mereka memang telah jinak karena sering diberi kacang-kacangan oleh wisatawan. Selain itu kita dapat ber-canoe ddi sungai yang ada di Pulau Handeuleum ini dan jika beruntung dapat berjumpa dengan Badak Jawa yang sama-sama kita cari.

Dipagi hari kami tidak sempat mencoba menelusuri sungai dengan canoe, karena sudah hari senin dan kami harus bergegas pulang sepagi mungkin. Pukul 8.15 WIB kami sempat berfoto di depan tembok bertuliskan Pulau handeuleum, sebelum kami masuk kedalam perahu untuk menuju Desa Tamanjaya.

Setibanya di Desa Taman jaya, kami mendapat kesempatan untuk bersantap siang di rumah Bapak Sentani. Lalu kami pun mulai mencari ojek motor untuk pulang ke Sumur. Karena sulit menemukan ojek motor siang hari itu, Bapak Sentani menawarkan mobil pick up-nya untuk mengantarkan kami menuju Cibaliung. Namun ini tidak gratis, kami harus membayar Rp. 250.000 untuk menyewa mobilnya. Apa mau dikata, akhirnya kami menerima penawarannya. Harga tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda jika kami harus menggunakan ojek motor lagi menuju Sumur dan menggunakan elf hingga Cibaliung. Selama perjalanan, sengatan matahari menjadi teman akrab kami hingga tiba di Cibaliung.

Untuk anda yang ingin pulang lebih murah lagi langsung menuju Labuhan, ada kendaraan elf yang melintasi Desa Tamanjaya, namun hanya berangkat dari Desa Tamanjaya saat dini hari pada pukul 02.00 WIB, namanya RM Rizki Makmur atau BM Bintang Mas. Sedangkan keberangkatannya dari Labuhan menuju Desa Tamanjaya pada pukul 09.00 WIB. Biayanya hanya Rp. 20.000, ini jauh sangat murah jika kita harus berpindah-pindah angkutan hingga menggunakan ojek motor yang mahal. Sayang saya baru tahu dari Bapak Sentani, semoga informasi ini memudahkan perjalanan anda menuju “Surga di ujung pulau jawa ini”. Datangi, kenali, dan cintai negerimu. Sekian.

2 komentar:

  1. haha keren kak....
    seneng bgt ngebolang, jadi pgn nyobain ah jd backpacker...
    hihi suka bgt foto yg lagi d pick up, kucel bgt... :))
    klo mau liat harimau jawa adanya d taman wisata curug cipendok d banyumas kak...katanya c suka nongol pas menjelang pagi...

    BalasHapus
  2. wahhaa.. iya fet.. tapi setau saya HARIAMAU JAWA udah punah.. makasih yah fet infonya..

    BalasHapus