Selasa, 23 Februari 2010

Gunung Tertinggi di Jawa Barat (KUNINGAN, JAWA BARAT)


Sejak Semester 1 tahun 2007 saya duduk di bangku kuliah, saya dan teman-teman selalu berangan-angan untuk dapat naik gunung. Hingga biasa menjadi bahan obrolan kami sewaktu di kampus. Karena persiapan pengetahuan tentang cuaca dan medan yang kurang, maka kami memutuskan untuk menunda wacana kami untuk naik gunung.
Hingga saya berada di Semester 4 tahun 2008, kembali saya mencuatkan wacana perjalanan kami untuk naik gunung. Kali ini dengan pembicaraan yang lebih serius dan persiapan yang lebih matang. Hingga kami merencanakan untuk menaklukkan “Gunung Tertinggi di Jawa Barat” yaitu Gunung Ciremei dengan ketinggian 3.078 mdpl. Segera saya dan teman-teman mencari dan mengumpulkan sebanyak mungkin artikel dan info mengenai gunung kebanggan Jawa Barat ini. Setelah artikel telah lengkap, kami membahasnya bersama terutama mengenai medan dan kesulitan yang ada, kami lanjutkan dengan membahas teknis pelaksanaan perjalanan ini, Selanjutnya pembahasan anggaran yang harus dikeluarkan tiap orangnya. Tidak lupa kami sendiri membagikan tugas dan tanggungjawab kepada masing-masing dari kami.
Pada Bulan Februari 2009 semua periapan telah beres dan lengkap. Mental kami pun telah siap bahkan tidak sabar untuk segera berangkat. Waktu libur pun telah didepan mata. Namun semua kematangan tersebut harus pupuh karena satu hal saja, cuaca. Kami mendapatkan berita buruk jika cuaca di sekitar Cirebon dan Kuningan sedang tidak bersahabat. Informasi cuaca yang akurat untuk tanggal yang anda ingin tahu dapat anda peroleh langsung dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). BMKG dapat memprediksi dengan cukup akurat cuaca yang akan terjadi di suatu lokasi yang kita ingin tahu. Secara umum, informasi mengenai cuaca dan iklim dapat kita ketahui dari website resmi BMKG yaitu http://iklim.bmg.go.id/index.jsp. Agar lebih akurat dan dapat ngobrol langsung dengan ahli cuaca-nya, maka saya menghubungi langsung BMKG Bandung di Nomor Telepon 022-2786047. Dari Informasi tersebut kami mengetahui daerah Kuningan sedang musim hujan besar. Dengan berat hati kami menunda perjalanan kami.
Pada libur akhir tahun 2009, saya menghidupkan kembali rencana “Naik Gunung Ciremei” yang sempat di-pending sepuluh bulan yang lalu. Saya pun segera mengkonfirmasi cuaca ke BMKG, dan hasilnya tetap menantang, cuaca di Kuningan pada akhir Desember 2009 berawan. Berbeda dengan Bulan Februari yang merupakan puncak musim penghujan tahun 2009, saya dan teman-teman pun memberanikan diri untuk memutuskan, BERANGKAT!!. Dengan memanfaatkan persiapan yang telah ada sebelumnya, kami pun menjalankan rencana tersebut kembali. Kami menyewa sleeping bag, tenda, dan perlengkapan lain di sebuah tempat penyewaan alat-alat naik gunung bernama Alment, yang berlokasi di Jalan Gagak, Kota Bandung. Kami ,menjadwalkan perjalanan kami selama lima hari yaitu pada tanggal 25, 26, 27, 28 dan 29 Desember 2009.
Pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2009, pukul 09.00 WIB kami berangkat dari basecamp menuju Terminal Cicaheum Kota Bandung. Setibanya di terminal, kami langsung mencari bus tujuan Cirebon, biar kerasa “backpacker-nya”, kami pilih yang ekonomi. Sekitar satu jam bus ini baru berangkat setelah penumpang sudah mulai ramai. Biaya perjalanan bus ekonomi Bandung – Cirebon sebesar Rp. 25.000, memang tidak ada AC dan tempat duduk seadanya, namun kami tetap dapat menikmati perjalanan sambil bersenda gurau. Setelah melewati perjalanan selama empat jam, akhirnya pukul 14.00 WIB kami tiba di Terminal Harjamukti Cirebon. Setelah turun dari bus kami cepat-cepat mencari tempat makan untuk bersantap siang, karena rasanya perut ini tidak dapat diajak kompromi lagi. Kami memilih Rumah Makan Padang “Sakato” persis disebelah kanan Terminal Harjamukti Cirebon, makanannya memang enak seperti rumah makan padang pada umumnya, namun karena kami terlihat pendatang harga untuk sepiring nasi, ayam goreng, sayur dan es teh manis sebesar Rp. 16.000, hmmmmm mahal juga yah.

Selanjutnya pukul 15.00 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju Cilimus dimana kami akan bermalam di rumah kerabat rekan kami. Dari Terminal Harjamukti Cirebon terdapat elf menuju Cilimus hanya dengan Rp. 3.000. Kami pun segera menaikan ransel dan carrier ke atap elf sambil menunggu sang supir menanti penumpangnya yang lain, rasanya ingin cepat tiba di Cilimus karena langit sudah mulai mendung. Saat ditengah perjalanan yang semakin gelap, tiba-tiba terdengar “DUUARRR!!”, waduh ternyata ban belakang elf ini pecah. Terpaksa seluruh penumpang turun dan duduk-duduk di sekitar elf sembari menunggu sang supir dan kenek mengganti ban, untung saja mereka membawa ban serep. Hari semakin gelap dan gerimis pun mulai turun, kami memutuskan untuk menurunkan ransel dan carrier kami masuk kedalam elf agar tidak kehujanan, lalu perjalanan menuju Cilimus pun dilanjutkan. Pukul 16.00 WIB kami tiba di Cilimus dalam keadaan hujan lebat, sambil diguyur hujan kami membawa ransel dan carrier keluar elf dan membawanya lari ke tempat teduh. Kami pun basah kuyub. Setelah hujan sedikit reda, kami teruskan berjalan kaki menuju rumah kerabat rekan kami yang tidak jauh dari tempat kami meneduh. Kami pun beristirahat hingga besok pagi.
Pada Sabtu tanggal 26 Desember 2009, kami bangun pukul 04.00 WIB setelah semalaman tidur kami ditemani hujan deras yang membuat kami khawatir akan cuaca hari ini, kami pun memaksakan diri bersiap untuk berangkat menuju Gunung Ciremei. Sebenarnya orang tua kami tidak ada yang betul-betul mengizinkan untuk naik Gunung Ciremei, ditambah lagi keadaan cuaca yang tidak cerah, semua ini membuat kami merapatkan barisan kembali untuk menyamakan pandangan, bahwa kami tidak akan ambisius menuju puncak, kami memutuskan untuk mendaki semampu kami, dan seizin Allah yang mengatur keadaan alam, jadi kami tidak akan memaksakan untuk sampai puncak, namun sesampainya saja. Pukul 06.00 WIB kami pun berangkat menuju POS Pendaftaran Linggajati dengan angkot yang telah kami charter. Dari POS ini kami melihat langit cerah seperti Allah menjawab doa kami kemarin malam, Alhamdulillah. Pukul 07.00 WIB kami pun mulai berangkat. Bismillahirahman nirahim.

Agar anda lebih mengerti, berikut saya jelaskan dulu pos-pos yang ada di “Jalur Pendakian Gunung Ciremei” yang saya catat selama perjalanan;
1. Cibunar, 750 mdpl
2. Leweung datar, 1.225 mdpl
3. Gorobag
4. Kondang amis
5. Kuburan kuda, 1450 mdpl
6. Pangalap, 1600 mdpl
7. Tanjakan bin-bin
8. Tanjakan seruni, 1.825 mdpl
9. Bapa tere, 2.025 mdpl
10. Batu lingga, 2.200 mdpl
11. Sangga buana I,
12. Sangga buana II, 2.500 mdpl
13. Pangasinan, 2.800 mdpl
14. Puncak, 3.027 mdpl
Oke, 13 pos yang akan kami lewati selama beberapa hari ini. Di setiap pos anda dapat melihat “plang” yang bertuliskan nama pos tempat anda berada, namun ada pula yang tidak memiliki plang, karena hanya penamaan suatu lokasi di jalur pendakian ini.

Pada Pos Pertama Cibunar, pos ini merupakan Pos pertama dan terakhir kita dapat menemui air bersih, jadi bawalah dan gunakan air secukupnya. Track yang dilalui hingga pos ini masih dipenuhi perkebunan warga dan rumah-rumah tradisional warga liggajati.
Hingga Pos Leweung datar, masih dapat kita jumpai perkebunan warga hingga semua berubah menjadi hutan pinus. Disini kami membuat nasi timbel dan ikan asin, nyam nyam, apapun nikmat rasanya saat kita lelah dan lapar.
Lalu Gorobag dan Kondang amis yang harus dilalui dengan kerapatan vegetasi yang cukup tinggi, hati-hati banyak pacet. Beberapa rekan kami tak sadar sedang jadi korban pacet hingga banyak darah berceceran di kulit.
Selanjutnya hutan lebat mulai terasa sebelum kita tiba di Pos Kuburan kuda, selain itu rintangan di track ini pun semakin terasa.

Kemudian dilanjutkan Pos Pangalap yang mulai gelap karena hutan yang sangat tebal menutupi cahaya matahari dan suhu disini mulai terasa begitu dingin. Setelah lebih kurang lima jam berjalan, kami beristirahat dan makan siang pada pukul 13.00 WIB dengan nasi, ikan asin dan telor dadar pemberian pendaki lain yang juga sedang makan siang. Tiba-tiba saja kepala saya begitu berat dan mual rasanya, dan “Hueekkk” saya pun muntah-muntah. Sontak saya langsung melepas baju yang penuh keringat dan menggantinya dengan baju lain. Lalu saya diberi waktu oleh teman-teman untuk beristirahat sejenak. Sambil dipaksa menghabiskan makan siang saya, saya juga minum Tolak Angin dan dihusap balsam oleh rekan saya. Alhamdulillah saya kembali siap melanjutkan perjalanan seperti biasa. Memang aneh, ada unsur mistisnya juga karena saat itu kami berada dibawah Pohon Beringin yang sangat besar, dan saya merasa tidak nyaman disana.
Selanjutnya kami lanjutkan dengan Tanjakan bin-bin, Tanjakan Seruni dan Bapa tere yang menjadi satu jalur rintangan yang Mahadahsyat. Mengapa demikian? Sulit dijelaskan, tapi saya coba jelaskan disini, terdapat track dengan akar-akar pepohonan yang menanjak dan curam, track tanah yang licin, track dengan batu-batu besar, ketiga seolah silih berganti dan menjadikannya track yang paling sulit di Jalur Pendakian Linggajati. Belum lagi kami sampai di Pos Bapa tere, hari sudah gelap pada pukul 17.00 WIB, maka kami putuskan untuk bermalam di tengah perjalanan. Kali ini makan malam kami dengan Mie Instan yang hangat dan ditemani kopi rasa mocha. Nikmat.
Pada hari Minggu tanggal 27 desember 2009 pukul 07.00 WIB kami bangun dan menyiapkan makan pagi berupa nasi dan ikan kaleng. Pukul 09.00 WIB kami melanjutkan menuju Pos Bapa tere dan Pos Batu Lingga. Ternyata Pos Bapa tere hanya tiga puluh menit dari tempat kami bermalam.
Dilanjutkan Pos Batu lingga selama satu jam. Di pos ini memang terlihat ada batu-batu besar, namun kami tidak tahu pasti mana yang dimaksud batu lingga. Yang pasti disini ada prasasti untuk mereka yang meninggal disini. Ini mengingatkan kami untuk lebih waspada di jalur ini.
Tiga puluh menit kami tiba di Pos Sangga buana I, disini mulai banyak pepohonan hutan hujan tropis dengan bagian pohon yang tertutupi lumut. Disini kami juga mencoba air yang ada di lumut yang menempel di pohon-pohon. Rasanya, SEGAR!!.
Berjalan tiga puluh menit dengan rintangan tidak seberat Tanjakan seruni dan Bapa tere, kami tiba di Pos Sangga buana II. Disini ada kubangan air kecil yang berada disudut bebatuan, jika beruntung kita dapat menambah pasokan air untuk perjalanan, dan beruntung saat itu kubangannya berisi air yang lumayan banyak. Namun kami harus membagi jatah dengan para pendaki lain, jadi tidak mungkin kami habiskan sendiri. Dan tiba-tiba saja, ”BRUUURRR” hujan lebat turun, lagi-lagi kami beuntung dapat ikut nimbrung di tenda pendaki lain untuk meneduh. Makin berasa saja keakraban diantara sesama pendaki. Indonesia itu sungguh luar biasa.
Setelah hujan benar-benar reda, kami melanjutkan ke Pos Pangasinan. Pos Pangasinan merupakan pos terakhir sebelum Puncak Gunung Ciremei. Satu jam berjalan dengan track batu-batu besar dan kecil berantakan disepanjang jalan menanjak yang curam membuat kami benar-benar kelelahan. Sesekali kami beristirahat di sepanjang jalan sambil menikmati panorama Kota Cirebon dan Laut Jawa yang terlihat begitu indah. Setibanya di Pos Pangasinan, pepohonan edelweiss yang sedang tidak berbunga membuat suasana di pos ini menjadi sangat spesial. Waktu yang terbaik untuk melihat edelweiss ini pada Bulan Agustus – September. Kami pun mendirikan tenda dan beristirahat hingga dini hari besok untuk melanjutkan pendakian menuju puncak.

Pada hari Senin tanggal 28 Desember 2009 pukul 03.00 WIB kami melanjutkan menuju Pos Puncak untuk menyaksikan sunrise dari puncak “Gunung Tertinggi di Jawa Barat” ini. Dengan berbekal senter pada tangan kami, kami menerobos gelapnya malam yang dihiasi bintang-bintang diatas kepala kami dan lampu-lampu Kota Cirebon dibawah kaki kami. Satu jam perjalanan kami tiba di Puncak Gunung Ciremei dan “ALLAHUAKBAR” kami sampai ditujuan kami dengan pengorbanan keringat, luka, lapar, haus dan dinginnya alam. Terima kasih ya Allah atas izinmu kami berada disini. Kami menyaksikan betul lembayung memerah seolah matahari pun segan menampakan dirinya pada kami. Pagi itu memang mendung, namun cahaya matahari membongkar gelapnya pandangan kami menjadi pengunungan jawa, bentangan Laut Jawa dan indahnya vegetasi di puncak Gunung Ciremei.

Pukul 06.15 WIB kami pun segera turun kembali karena kabut tebal mulai menyelimuti puncak. Hanya lima belas menit kami tiba di Pos Pangasinan kembali dan kami sarapan pagi sebelum turun menuju Pos Cibunar.
Ditengah perjalanan, rekan kami pun mulai tidak enak badan dan butuh istirahat. Ditengah hujan deras kami harus dengan cepat membuat tenda darurat, menyiapkan makan, membuat saluran air hujan, dan menghangatkan rekan kami yang sakit. Beruntung dengan makan dan istirahat rekan kami kembali pulih dan kembali melanjutkan perjalanan menuju Pos Cibunar. Pukul 18.30 WIB kami pun tiba di Pos Cibunar dan Alhamdulillah kami selamat tanpa kurang suatu apapun. Terima kasih ya Allah ya Tuhan kami.
Selanjutnya kami bermalam di mushola tepat dibelakang Pos Pendaftaran. Disini baru kembali ada signal setelah beberapa hari orang-orang tercinta kami sulit menghubungi kami.
Pada Selasa tanggal 29 Desember 2009 kami pun bergegas pulang. Kami menunggu Bus Kuningan – Bandung di depan gerbang masuk menuju area bersejarah Linggajati. Agar lelah kami terbayarkan, kali ini kami pulang dengan bus AC. Waaahh nyaman sekali.

Demikian cerita singkat perjalanan saya dan teman-teman menuju “Gunung Tertinggi di Jawa Barat”. Jangan lupa membawa trash bag dan tidak membuang sampah sembarangan. Datangi, kenali dan cintai negerimu. Sekian.

3 komentar:

  1. my life and your life are adventure!!!!!!!!!!!

    BalasHapus
  2. kalo boleh tau lewat jalur mana naiknya.....

    BalasHapus
  3. makasih ya untuk infonya...

    BalasHapus